Wednesday, 6 May 2020

Rasul Sarankan 4 Negeri ini Dihuni di Akhir Zaman

AKHIR zaman merupakan masa yang mendekati terjadinya hari kiamat. Khabar tentang terjadinya hari kiamat sudah tertulis dalam Al-Quran dan hadis. Hampir tanda-tanda yang dijelaskan tersebut sudah terjadi. Bahkan, boleh disimpulkan bahawa kita sedang menanti datangnya tanda kiamat besar. Menjelang terjadinya kiamat besar, maka akan terjadi petaka dan huru hara yang akan melanda manusia khususnya umat Islam.

Dajjal laknatullah akan menebar fitnahnya ke berbagai penjuru bumi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menganjurkan empat negeri ini untuk ditinggali. Pasalnya, negeri ini begitu diberkahi oleh Allah Ta'ala. Berikut negeri yang disarankan Rasulullah dihuni pada akhir zaman.


1. Mekah dan Madinah

Mekah menjadi salah satu negeri yang disarankan Nabi untuk ditinggali. Pasalnya kota suci Umat Islam ini akan terbebas dari fitnah Dajjal yang kejam. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Allah Ta'ala menjamin bahwa ini akan dijaga oleh malaikat dari fitnah Dajjal.

"Tiada suatu negeri pun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorong pun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turun lah di suatu tanah yang berpasir (di luar Madinah) lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan setiap orang kafir dan munafik (dari Makkah Madinah)." (Riwayat Muslim).


2. Yaman

Allah juga melebihkan negeri Yaman dibanding negeri-negeri lainnya setelah Mekah dan Madinah. Negeri Yaman ini mendapat julukan dari Allah Ta'ala dengan sebutan baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur (Negeri yang aman, dan senantiasa mendapat ampunan Rabb-nya). Selain itu, Nabi Muhammad juga menyarankan negeri ini dihuni di akhir zaman. Pada akhir zaman nanti, umat Islam pada akhirnya akan menjadi pasukan perang. Hal ini sudah disabdakan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dari Abdullah bin Hawalah mengatakan, Nabi shallallahualaihi wasallam bersabda,
"Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Kerana ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa, hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Kerana Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya." (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Dinilai shohih oleh Al-Hakim dan Al-Albani)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam beliau bersabda: "Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling luluh hati, dan paling lembut hati, keimanan ada di Yaman dan hikmah ada di Yaman." (HR: Bukhari Muslim).

Dari sahabat Tsauban berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah bersabda, "Sesungguhnya kelak aku akan berada di samping telagaku. Kemudian Aku akan menghalangi orang-orang yang akan meminum dari telagaku, agar penduduk Yaman dapat meminumnya terlebih dahulu. Aku memukul dengan tongkatku, sehingga air telaga tersebut mengalir untuk mereka." (HR. Muslim)


Dari Ibnu Umar beliau menyebutkan Nabi shallallahu Alaihi Wasallam pernah berdoa: "Ya Allah berkatilah kami pada Syam dan pada Yaman." (HR. Bukhari)

Lantas adakah doa yang lebih mustajab dibanding Doa Nabi? Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bahkan pernah memuji kota ini dalam sabdanya, "Sesungguhnya aku benar-benar mencium harumnya kurnia Tuhan yang Maha Pemurah dari Yaman. Berapa banyak mata air kemurahan dan hikmah yang terpancar dari sana."

Allah Ta'ala juga berfirman dalam Alquran QS. Al-Maidah 54 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Maidah 54)

Pendapat dari ahli tafsir sebahagian menyatakan bahwa kaum yang disebutkan di atas adalah kaum Anshor. Namun, pendapat yang lebih kuat mengenai identitas kaum yang disinggung dalam ayat di atas; sebagaimana dijelaskan oleh Imam al Qurtubi dalam tafsirnya, adalah penduduk negeri Yaman; kaumnya sahabat Abu Musa al Asy-asyari radhiyallahuanhu. "Turunnya ayat ini; terang Imam Al Qurtubi, berkenaan dengan kabilah yang bernama al Asy-ari. Dalam riwayat disebutkan: setelah ayat ini turun, beberapa rombongan kapal dari kabilah al Asy-ari dan kabilah-kabilah lainnya dari negeri Yaman, datang melalui jalur laut. Mereka adalah kaum muslimin yang tertindas di negerinya pada masa Rasulullah shallallahualaihi wasallam masih hidup. Merekalah yang berjasa dalam penaklukan negeri Irak (melalui perang Al Qodisiyyah) pada masa kekhilafahan Umar radhiyallahuanhu."


3. Syam

Negeri syam juga menjadi salah satu negeri yang disebut-sebut Rasullullah dan mendapat keberkahan dari Allah. Negeri ini senantiasa dijaga malaikat sehingga baik dihuni pada akhir zaman nanti. "Beruntunglah negeri Syam. Sahabat bertanya: mengapa ? Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: Malaikat rahmat membentangkan sayapnya di atas negeri Syam." (HR. Imam Ahmad)

Dijelaskan Nabi bahawa Syam merupakan pusat negeri Islam diakhir zaman. Nantinya di sinilah akan menjadi tempat huru-hara dan peperangan dahsyat. "Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang: satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Ibnu Hawalah bertanya: Wahai Rasulullah, pilihkan untukku jika aku mengalaminya. Nabi saw: Hendaklah kalian memilih Syam, kerana ia adalah negeri pilihan Allah, yang Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya, jika tak bisa hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya), karena Allah menjamin untukku negeri Syam dan penduduknya." (HR. Imam Ahmad)

"Al-Masih Dajjal akan datang dari arah timur, ia menuju Madinah, hingga berada di balik Uhud, ia disambut oleh malaikat, maka malaikat membelokkan arahnya ke Syam, di sana ia dibinasakan, di sana dibinasakan." (HR. Imam Ahmad).

Saat ini Negeri Syam merujuk ke sejumlah tempat di Timur Tengah seperti Lebanon, Palestina dan Suriah.

Saturday, 2 May 2020

SYARAT MENJADI SEORANG KHALIFAH


KHALIFAH itu  adalah pemimpin  tertinggi  umat Islam,  bukan  hanya  pemimpin  kelompok  atau  jama’ah umat Islam tertentu dan bertanggung  jawab  atas  tegaknya ajaran Islam dan urusan duniawi umat Islam, maka para ulama’, baik Salaf (generasi awal Islam) mahupun Khalaf  (generasi  setelahnya) telah menyepakati bahwa seorang Khalifah itu harus memiliki syarat atau kriteria yang sangat ketat.
Syarat atau kriteria yang mereka jelaskan itu berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah dan  juga  praktek  sebagian  sahabat, khusunya  Khulafaurrasyidin setelah Rasul SAW yakni Abu Bakar, Umar, Uthman, dan Ali ra.
Menurut Syeikh Muhammad Al-Hasan Addud Asy-Syangqiti, paling tidak ada sepuluh syarat atau kriteria  yang harus terpenuhi oleh seorang Khalifah:
  1. Muslim, tidak sah jika ia kafir, munafik,  atau  diragukan  kebersihan aqidahnya.
  2. Laki-laki,  tidak  sah  jika  perempuan,  kerana  Rasulullah  SAW  bersabda, “Tidak  akan  sukses  suatu  kaum  jika mereka  menjadikan  wanita  sebagai pemimpin”.
  3. Merdeka, tidak sah  jika  ia budak, kerana ia harus memimpin dirinya dan orang lain. Sedangkan budak tidak bebas memimpin  dirinya,  apalagi  memimpin orang  lain.
  4. Dewasa,  tidak sah  jika anak-anak, kerana  anak-anak  itu  belum  mampu memahami dan memenej permasalahan.
  5. Mujtahid,  orang yang bodoh  atau  berilmu  kerana ikut-ikutan (taklid), tidak sah kepemimpinannya  seperti yang  dijelaskan  Ibnu  Hazm, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdil Bar  bahwa  telah  ada  ijmak (konsensus)  para  ulama’,  bahwa  tidak sah kepemimpinan tertinggi umat Islam jika  tidak  sampai  derajat  Mujtahid tentang  Islam.
  6. Adil, tidak sah  jika  ia dzhalim dan fasik, kerana Allah SWT menjelaskan kepada  Nabi  Ibrahim  bahwa  janji  kepemimpinan  umat  itu  tidak  (sah)  bagi orang-orang yang zalim.
  7. Profesional  (amanah dan kuat). Khilafah  itu  bukan  tujuan,  akan  tetapi sarana  untuk  mencapai  tujuan-tujuan yang  disyari’atkan  seperti menegakkan keadilan,  menolong  orang-orang  yang dizalimi, memakmurkan bumi, memerangi  kaum  kafir,  khususnya  yang memerangi umat Islam dan berbagai tugas besar lainnya. Orang yang tidak mampu dan  tidak  kuat  mengemban  amanah tersebut  tidak  boleh  diangkat  menjadi Khalifah. Sebab itu Imam Ibnu Badran menjelaskan  bahwa,  pemimpin-pemimpin Muslim di negeri-negeri Islam yang  menerapkan  sistem  kafir  atau Musyrik,  tidaklah dianggap  sebagai pemimpin umat Islam karena mereka tidak mampu memerangi musuh-musuh Islam dan  tidak  pula  mampu  menegakkan Syari’at Islam dan bahkan tidak mampu melindungi orang-orang yang dizalimi dan  seterusnya, kendatipun mereka secara  formal  memegang  kendali  kekuasaan seperti raja atau presiden. Lalu Ibnu Badran menjelaskan:Mana mungkin orang-orang yang seperi itu menjadi  Khalifah, sedangkan mereka  dalam tekanan Thagut  (Sistem  Jahiliyah) dalam semua aspek kehidupan? Sedangkan para pemimpin gerakan  dakwah yang ada sekarang hanya sebatas pemimipin kelompok-kelompok atau  jama’ah-jama’ah umat Islam, tidak sebagai pemimpin tertinggi umat Islam  yang  mengharuskan  taat  fil  masyat  wal makrah  (dalam  situasi  mudah dan  situasi  sulit), kendati digelari dengan Khalifah.
  8. Sihat  Penglihatan,  pendengaran dan lidahnya serta tidak lemah fizikalnya. Orang yang cacat fizikal atau lemah fizikal tidak sah kepemimpinannya, kerana bagaimana mungkin orang seperti itu mampu menjalankan tugas besar untuk kemaslahatan agama dan umatnya? Untuk dirinya saja memerlukan bantuan orang lain.
  9. Pemberani, orang-orang pengecut tidak sah jadi Khalifah. Bagaimana mungkin orang pengecut itu memiliki rasa  tanggungjawab terhadap agama Allah dan urusan Islam  dan umat Islam? Ini yang dijelaskan oleh Umar Ibnul  Khattab saat beliau berhaji: Dulu aku adalah pengembala unta bagi Khattab (ayahnya) di Dhajnan. Jika aku lambat aku dipukuli,  ia  berkata:  anda  telah  menelantarkan (unta-unta)  itu. Jika aku  tergesa-gesa  ia pukul aku dan  berkata:  anda  tidak menjaganya  dengan  baik.Sekarang aku telah bebas, merdeka dipagi dan sore hari. Tak ada lagi seorang pun yang aku takuti selain Allah. Dari Suku Quraisy, yakni dari suku Fihir bin Malik,  bin Nadhir,  bin Kinanah,  bin Khuza’ah.
  10. Para ulama‘  sepakat,  syarat  ini hanya berlaku  jika memenuhi  syarat-syarat  sebelumnya.  Jika  tidak terpenuhi,  maka  siapapun  diantara  umat  ini  yang memenuhi persyaratan, maka ia adalah yang paling berhak menjadi Khalifah.

MU, MIM, MALA, JAWI, JAWA, MELAYU dan DUNIA

Di suatu group di dalam Facebook, ada orang tanya tentang siapa itu bani jawi dan apa pula itu melayu. Group ini adalah group FAB atau di ke...