Saturday, 2 May 2020

SYARAT MENJADI SEORANG KHALIFAH


KHALIFAH itu  adalah pemimpin  tertinggi  umat Islam,  bukan  hanya  pemimpin  kelompok  atau  jama’ah umat Islam tertentu dan bertanggung  jawab  atas  tegaknya ajaran Islam dan urusan duniawi umat Islam, maka para ulama’, baik Salaf (generasi awal Islam) mahupun Khalaf  (generasi  setelahnya) telah menyepakati bahwa seorang Khalifah itu harus memiliki syarat atau kriteria yang sangat ketat.
Syarat atau kriteria yang mereka jelaskan itu berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah dan  juga  praktek  sebagian  sahabat, khusunya  Khulafaurrasyidin setelah Rasul SAW yakni Abu Bakar, Umar, Uthman, dan Ali ra.
Menurut Syeikh Muhammad Al-Hasan Addud Asy-Syangqiti, paling tidak ada sepuluh syarat atau kriteria  yang harus terpenuhi oleh seorang Khalifah:
  1. Muslim, tidak sah jika ia kafir, munafik,  atau  diragukan  kebersihan aqidahnya.
  2. Laki-laki,  tidak  sah  jika  perempuan,  kerana  Rasulullah  SAW  bersabda, “Tidak  akan  sukses  suatu  kaum  jika mereka  menjadikan  wanita  sebagai pemimpin”.
  3. Merdeka, tidak sah  jika  ia budak, kerana ia harus memimpin dirinya dan orang lain. Sedangkan budak tidak bebas memimpin  dirinya,  apalagi  memimpin orang  lain.
  4. Dewasa,  tidak sah  jika anak-anak, kerana  anak-anak  itu  belum  mampu memahami dan memenej permasalahan.
  5. Mujtahid,  orang yang bodoh  atau  berilmu  kerana ikut-ikutan (taklid), tidak sah kepemimpinannya  seperti yang  dijelaskan  Ibnu  Hazm, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdil Bar  bahwa  telah  ada  ijmak (konsensus)  para  ulama’,  bahwa  tidak sah kepemimpinan tertinggi umat Islam jika  tidak  sampai  derajat  Mujtahid tentang  Islam.
  6. Adil, tidak sah  jika  ia dzhalim dan fasik, kerana Allah SWT menjelaskan kepada  Nabi  Ibrahim  bahwa  janji  kepemimpinan  umat  itu  tidak  (sah)  bagi orang-orang yang zalim.
  7. Profesional  (amanah dan kuat). Khilafah  itu  bukan  tujuan,  akan  tetapi sarana  untuk  mencapai  tujuan-tujuan yang  disyari’atkan  seperti menegakkan keadilan,  menolong  orang-orang  yang dizalimi, memakmurkan bumi, memerangi  kaum  kafir,  khususnya  yang memerangi umat Islam dan berbagai tugas besar lainnya. Orang yang tidak mampu dan  tidak  kuat  mengemban  amanah tersebut  tidak  boleh  diangkat  menjadi Khalifah. Sebab itu Imam Ibnu Badran menjelaskan  bahwa,  pemimpin-pemimpin Muslim di negeri-negeri Islam yang  menerapkan  sistem  kafir  atau Musyrik,  tidaklah dianggap  sebagai pemimpin umat Islam karena mereka tidak mampu memerangi musuh-musuh Islam dan  tidak  pula  mampu  menegakkan Syari’at Islam dan bahkan tidak mampu melindungi orang-orang yang dizalimi dan  seterusnya, kendatipun mereka secara  formal  memegang  kendali  kekuasaan seperti raja atau presiden. Lalu Ibnu Badran menjelaskan:Mana mungkin orang-orang yang seperi itu menjadi  Khalifah, sedangkan mereka  dalam tekanan Thagut  (Sistem  Jahiliyah) dalam semua aspek kehidupan? Sedangkan para pemimpin gerakan  dakwah yang ada sekarang hanya sebatas pemimipin kelompok-kelompok atau  jama’ah-jama’ah umat Islam, tidak sebagai pemimpin tertinggi umat Islam  yang  mengharuskan  taat  fil  masyat  wal makrah  (dalam  situasi  mudah dan  situasi  sulit), kendati digelari dengan Khalifah.
  8. Sihat  Penglihatan,  pendengaran dan lidahnya serta tidak lemah fizikalnya. Orang yang cacat fizikal atau lemah fizikal tidak sah kepemimpinannya, kerana bagaimana mungkin orang seperti itu mampu menjalankan tugas besar untuk kemaslahatan agama dan umatnya? Untuk dirinya saja memerlukan bantuan orang lain.
  9. Pemberani, orang-orang pengecut tidak sah jadi Khalifah. Bagaimana mungkin orang pengecut itu memiliki rasa  tanggungjawab terhadap agama Allah dan urusan Islam  dan umat Islam? Ini yang dijelaskan oleh Umar Ibnul  Khattab saat beliau berhaji: Dulu aku adalah pengembala unta bagi Khattab (ayahnya) di Dhajnan. Jika aku lambat aku dipukuli,  ia  berkata:  anda  telah  menelantarkan (unta-unta)  itu. Jika aku  tergesa-gesa  ia pukul aku dan  berkata:  anda  tidak menjaganya  dengan  baik.Sekarang aku telah bebas, merdeka dipagi dan sore hari. Tak ada lagi seorang pun yang aku takuti selain Allah. Dari Suku Quraisy, yakni dari suku Fihir bin Malik,  bin Nadhir,  bin Kinanah,  bin Khuza’ah.
  10. Para ulama‘  sepakat,  syarat  ini hanya berlaku  jika memenuhi  syarat-syarat  sebelumnya.  Jika  tidak terpenuhi,  maka  siapapun  diantara  umat  ini  yang memenuhi persyaratan, maka ia adalah yang paling berhak menjadi Khalifah.

MU, MIM, MALA, JAWI, JAWA, MELAYU dan DUNIA

Di suatu group di dalam Facebook, ada orang tanya tentang siapa itu bani jawi dan apa pula itu melayu. Group ini adalah group FAB atau di ke...